Jumat, 16 Desember 2011

Sate Klathak Pak Bari

Diantara beberapa jenis sate dari Sabang sampai Merauke menurut saya ada salah satu macam sate yang spesial nggak pake endog. Sate yang tidak berteman dengan kecap sebagai soulmatenya, sate yang bumbunya paling nggak macem-macem, sate yang tidak ditusuk pakai tusukan bambu. Ya, sate klathak namanya. Sate yang berasal dari Jogja ini salah satu diantara menu sate yang paling spesial menurut saya.

Sejarah sate klathak ini dulunya berasal dari Pasar Jejeran, Bantul dimiliki oleh Mbah Ambyah. Awal mulanya karena banyak warga sekitar yang memelihara kambing, sehingga hal ini mencetuskan ide dari Mbah Ambyah si nenek moyang sate klathak untuk membuat makanan berbahan dasar kambing. Tahun 1946 beliau memulai usahanya dengan berjualan dibawah pohon melinjo. Saya masih bingung kenapa beliau memilih pohon melinjo, kenapa gak pohon talok, apa pohon pete, apa uwit gedang gitu biar bisa sekalian ngunduh gedhang lalu dimakan sisan. Entahlah kenapa pohon melinjo yang dipilihnya, pasti Mbah Ambyah lagi galau (durung njaman kayaknya waktu itu) karena disitu cuma ada pohon melinjo yaudahlah jualan disitu aja. Sayangnya mbah Ambyah sekarang sudah meninggal dan warung satenya sekarang diteruskan oleh anak-anaknya. Nah di Pasar Jejeran sekarang warung ini digantikan oleh generasi selanjutnya (yang sepertinya generasi ketiga setelah Mbah Ambyah, cmiiw) yang akrab disebut Pak Bari. Beliau memberi nama warungnya seseuai dengan namanya sendiri, Sate Klathak Original Pak Bari.

Sejarah diberikan nama sate klathak ini ada beberapa versi, ada yang bilang bahwa nama klathak berasal dari bunyi daging kambing yang ditusuk dengan jeruji sepeda ketika dimasak diatas bara api yang bunyinya "klathak-klathak" yang menurut saya terdengarnya lebih ke "plethak-plethak" ya mbuh apalah bunyinya tergantung siapa yang mendengarkan. Kemudian ada juga yang bilang kalau klathak berasal dari buah melinjo yang jatuh dari tempat berjualan sang penemu sate klathak ini. Versi lainnya bilang klathak berasal dari bunyi melinjo yang dibakar, karena dulunya sang pembuat suka makan melinjo yang dibakar. Ya pokoknya banyak deh asal mula nama klathak, sak sak e sik nggawe aja menurut saya nggak ada versi mana yang benar dan salah wong kita menyaksikan sejarahnya secara langsung, yang penting budaya kuliner yang satu ini jangan sampai hilang termakan oleh semakin moderennya jaman yang edan ini.

Berbeda dengan sate-sate lainnya yang mengandalkan berbagai macam bumbu agar tercipta rasa yang khas dan menjadi daya tarik terserdiri maka sate klathak cukup bangga dan dapat populer dengan bumbu nya yang hanya berupa garam. Tusuk yang digunakan untuk memasak pun terbilang unik, apalagi bagi yang pertama kali mendengarnya. Mungkin sate pada umumnya ditusuk dengan menggunkan tusuk yang terbuat dari bambu maka sate klathak ini tusukannya terbuat dari jeruji besi yang biasanya dipakai untuk jeruji sepeda. Pasti yang belum pernah nyobain sate klathak mereka berpikir kalau jeruji yang dipake ini karatan dan bla bla lainnya. Tenang saja, tusuk jeruji yang digunakan selama ini cukup teruji dan aman, tidak ada korban yang jatuh gara-gara sate klathak ini karena biasanya tusuk jeruji ini selalu dibersihkan setiap kali akan dipakai jadi tidak berkarat. Konon katanya tusuk dari jeruji besi ini digunakan karena besi merupakan penghantar panas yang baik, jadi irisan daging yang ditusuk menggunakan tusuk ini bisa matang sampai ke dalam-dalamnya.

Anda yang biasa menyantap sate jangan heran dengan porsi sate klathak, kalau biasanya anda menikmati sate kambing biasa bisa 5-10 tusuk per porsinya sate klathak hanya berisi dua tusuk saja. Disajikan apa adanya masih lengkap dengan jeruji besi sepanjang kira-kira 30cm. Begitu original kesan saya, tapi alangkah nikmatnya sate ini jika dimakan bersama sepiring nasi, kuah gule dan teh nasgitel yang disajikan sengan gula jawa. Kuah gule disini pas banget biar nggak seret dan ada kuahnya biar seger. Atau bagi yang suka bisa dimakan dengan kecap yang berisi potongan brambang, tomat dan kobis. Selera saja sih menurut saya. Rasa sate klathak menurut saya enak, dagingnya segar sehingga lumer dimulut, bumbunya meresap sempurna, panas dari jerujinya juga memberikan rasa tersendiri untuk daging bagian dalam.

Daging kambing yang digunakan juga dipilih dari daging wedhus gembel alias domba gimbal, ini dikarenakan daging si wedhus gembel ini tidak berbau prengus jika dimasak berbeda dengan daging kambing jenis lainnya. Setiap harinya tak kurang 20 kilo daging wedhus gembel dihabiskan Pak Bari untuk melengkapi permintaan pelanggannya. Untuk membuat sate klathak, potongan daging kambing diremas-remas agar bumbu garamnya meresap dan merata. Bagi yang suka rasa pedas Pak Bari bisa mengkombinasikan dengan bumbu merica, atau bagi yang suka manis ketika meremas tadi biasanya dicampurkan dengan sedikit kecap.

Menu selain sate klathak yang unik ini juga ada sate goreng. Yang ini unik juga, karena dimasaknya dengan cara digoreng bukan dibakar diatas arang. Selain itu juga ada tongseng yang rasanya tidak kalah nikmat dengan menu yang lainnya. Jika anda ingin sesuatu yang berbeda coba menu bernama kicik. Cara membuatnya sama dengan membuat tongseng, tapi kuahnya dibiarkan menguap sampai agak kering. Yang tersisa tinggal daging dengan kuah sangat kental seperti gulali. Rasanya lebih manis dan asin. 

Walaupun warung kepunyaan Pak Bari ini hanya menempati sebuah ruko yang siangnya berubah menjadi pasar, namun banyak dari kalangan artis yang mengidolakan menu sate klathak mereka. Sate Klathak Pak Bari ini buka sekitar pukul 18:30 karena pagi sampai siangnya tempat yang dibuat untuk dia berjualan berubah menjadi pasar. Disarankan untuk datang sekitar jam 7 malam agar tidak terlalu mengantri, kemaren kunjungan terakhir saya datang selepas magrib pukul 18:30 itu malahan Pak Barinya belum datang, jadi saya menunggu beliau datang demi dua tusuk sate klathaknya. Seporsi sate klathak dan menu lainnya disini dihargai 12ribu/porsi, dengan nasi dan teh nasgitel total semuanya 15ribu.

Jika anda tidak sabar menunggu malam datang, Pak Bari bukan hanya satu-satunya penjual sate klathak didaerah sini. Di sekitaran jl. Imogiri timur atau sekitaran pasar Jejeran banyak warung-warung yang menjual menu sate klathak yang buka mulai pagi hingga malam. Dari puluhan penjual sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran umumnya masih punya hubungan famili dengan Pak Bari seperti Pak Pong, Pak Jono, dll. Yang pantas dibanggakan dari mereka para penjual sate klathak ini, meski medan bisnisnya sama, mereka tetap rukun. Persaingan tidak menyebabkan saling menjatuhkan satu sama lain.

Sate goreng, satenya gak pake ditusuk, cuma dibumbuin terus di goreng. Disajikan dengan kuah gule.

Satu porsi sate klathak isinya cuma dua tusuk, tapi menurut saya segini adalah porsi yang cukup karena kebanyakan orang cenderung pusing ketika memakan daging kambing terlalu banyak.

Sate klathak dengan kuah gule.

Tongseng a la Pak Bari, rasanya segar bercampur gurih.

Pak Bari sedang membuat pesanan dari para pelanggannya.

 Suasana warung Pak Bari yang menempati kios didalam Pasar Jejeran

Ini sate klathak yang masih mentah, walaupun cuma dua tusuk dagingnya udah lumayan banyak menurut saya.
Gule Pak Bari, saya belum pernah mencoba menu yang satu ini hanya sempat menyicipi kuahnya saja.


Ini dia spanduk Sate Klathak Original Pak Bari "Jangan ngaku klathak mania sebelum jajan disini"


6 comments:

grace lauw mengatakan...

punten mau tanya, sate klathak pak bari sama pak pong enakan mana mba?

hennpuspita mengatakan...

@grace lauw: saya lebih suka Pak Bari sih.. tapi kalo siang-siang kepengen makan sate klathak saya akan makan di Pak Pong karena Pak Bari baru buka malam

Dian Sutisna mengatakan...

wah, kapan ya bisa ke sate klathak pak pong ini.....
hmmm kepengen bet niih :)

Arfi Ardian mengatakan...

kayaknya sate klatak pak pong ini enak ya, duh, jdi pengen e mas ....hehehe

semoga suatu saat ada kesempatan untuk ke jogja lagi deh :) amin

Sukinto Anggono mengatakan...

Muantap

siti zulaiha mengatakan...

Waow kayaknya enak rasanya, kalau boleh tau bahan buat sate klatak gmna yah mas??
Artikelnya sangat bermanfaat kak,terimakasih infonya kak

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar :)