Jumat, 02 Desember 2011

Kampung Daun -- Bukan Tempat Jualan Daun

Weekend di kota Bandung memang sedikit menyiksa jika dihabiskan di pusat kota karena jalanan bakalan macet dimana-mana. Kendaraan bermobil bukan hanya didominasi oleh plat D tetapi kendaraan plat B juga mulai banyak terlihat di kota ini jika akhir pekan datang. Karena saya pengen menghabiskan akhir pekan dengan suasana dan hati senang yang riang gembira maka saya berinisiatif untuk kabur sejenak dari hiruk pikuk kota Bandung yaitu menuju ke sekitaran jl. Sersan Bajuri. Tujuan saya sebenarnya ingin dinner disana karena daerah yang akan saya kunjungi itu kalau malam bisa melihat pemandangan kerlap kerlip lampu kota Bandung yang indah dan romantis, ditambah lagi udara yang dingin menambah suasana romantis malam minggu saya :")

Sore itu saya memutuskan untuk naik saja menuju jl. Sersan Bajuri karena berpikir kalau berangkat ketika petang nanti pasti akan terjebak macet. Jalan Sersan Bajuri ini dari Jl. Dr. Setiabudi tinggal naik aja terus menuju arah Lembang, nah nanti pas di Terminal Ledeng belok aja ke kiri disitu adalah Jalan Sersan Bajuri, jalannya memang agak kecil dan menanjak. Disepanjang jalan itu Anda akan disuguhi pemandangan yang indah dari kota Bandung, selain itu di jalan ini banyak penjual tanaman hias dan bunga warna-warni yang akan memanjakan mata Anda sepanjang perjalanan. Di jalan ini juga banyak sekali tempat-tempat makan yang menawarkan menu makanan beserta view pemandangan yang indah.

Tujuan saya sebenarnya pengen dinner di Maja House yang oh-so-romantic place I ever see.. Tentang Maja House ini nanti saya ceritakan di postingan selanjutnya. Ceritanya ini mau menelusuri si jalan Sersan Bajuri yang udah kayak taman bunga aja kanan kiri warna warni tanaman hias, ternyata ini jalan panjang banget dan nggak tau ujungnya kemana makanya akhirnya saya puter balik setelah lurus terus menelusuri jalan ini sampai bosen. Waktu itu masih sore sekitar pukul 16:00 dan saya sudah bosan muter-muter di jalan ini, akhirnya saya memutuskan untuk mampir untuk beristirahat sejenak sembari makan kecil untuk menunggu petang tiba di Kampung Daun.

“Selamat datang di Kampung Kami,Kampung Daun”
Sapaan akrab itu menyambut Anda saat memasuki area Kampung Daun Culture Gallery & Cafe. Memang, suasana kampung yang penuh keramahan, tenang dan hommy terasa kental disini. 

Kampung Daun berada di kawasan obyek wisata Cihideung, di belahan Utara Kota Bandung. Lokasinya di Jalan Sersan Bajuri km 4,7 km. Konon katanya nama Kampung Daun sendiri diambil karena di tempat ini dahulu dipenuhi daun-daun labu siam. Filosofi labu siam adalah semakin rimbun semakin merunduk. Jadi, Kampung Daun merupakan perkampungan yang low profile serta penuh kebersahajaan. Daun labu siam-pun dijadikan sebagai lambang Kampung Daun.  Namun jangan dikira ditempat ini banyak penjual daun, disini Anda tidak akan menemukan penjual daun :D

Mulanya pada tahun 1999 dibangun  4 buah saung dengan surabi dan poffertjes sebagai makanan yang disajikan. Seiring dengan berjalannya waktu, saung demi saung dibangun. Kini Kampung Daun memiliki 29 saung kecil, 4 saung dengan kapasitas 30-50 orang, Bumi Cai (rumah diatas air), RB (rumah besar), Curug 2AB (curug A dan curug B, dimana view-nya langsung ke arah air terjun), Balai Ageung (berupa pendopo yang berada paling atas) dengan kapasitas 200-300 orang. Balai Ageung ini punya cerita tersendiri. Joglo Bale Ageung didapat dari Solo, diperkirakan telah berumur 300 tahun. Ada 4 soko guru (tiang utama) dan disetiap tiangnya terdapat koin VOC abad 17. 

Kampung Daun sendiri berada di dalam kompleks perumahan yang tergolong sangat mewah bagi saya. Nggak bisa bayangin bisa tinggal disini, pasti seneng banget. Dari perumahan mewah ini saya tinggal mengikuti papan petunjuk yang cukup jelas untuk mengantarkan kita sampai ke Kampung Daun. Jangan kaget ketika memasuki kawasan perumahan mewah tadi terasa sangat sepi tetapi jika sudah sampai ke Kampung Daun sayasudah disambut dengan puluhan mobil dan beberapa bis rombongan yang sudah terparkir di lahan parkir mereka yang sangat luas. Oh ya sekedar tips jika Anda berkunjung kesini saat malam hari jangan lupa bawa jaket atau sweater karena udara malam disini cukup dingin.

Memasuki area Kampung Daun saya akan disambut dua buah andong di kanan kiri jalan serta beberpa pedagang penjual oleh-oleh khas Bandung di kanan jalan menuju bagian dalam tempat ini. Sebelum memasuki area Kampung Daun, saya diharuskan memesan tempat terlebih dahulu. Pada sisi kiri sebelum masuk, pelayan akan menanyakan jumlah orang yang akan masuk. Selanjutnya, mereka akan menghubungi pelayan lainnya yang ada di dalam dan saya diberi nomor saung tempat bersantap. Saung yang diberikan biasanya berdasarkan jumlah orang karena ukuran saung yang berbeda sehingga kapasitas yang ditampung juga berbeda.

Ketika berjalan menuju saung-saung disambut pedagang dengan dagangan tempo dulu seperti pedagang gulali, kue tradisional dan dodol. Tempat ini sangat menyatu dengan alam dengan pepohonan yang masih tinggi menjulang dan suara-suara hewan khas hutan. Jalanan setapak dari batu yang tercetakkan pola berbagai macam daun sedikit berbelok-belok menyusuri setiap saung-saung diantara pepohonan. Di saung inilah sayaakan menikmati hidangan secara lesehan, setiap sisi saung berhiaskan tirai berwarna putih, kentongan khas desa yang juga digunakan untuk memanggil pelayan disini, didalamnya terdapat meja, bantal, guling dan alas yang cocok dijadikan kasur. Pelayan-pelayan disini semuanya memakai baju bergaya sunda dan mereka sangat ramah menyapa setiap pengunjung disini, feels like home :)

Saung ini akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk menyantap menu sembari bersantai karena disini saya dapat mendengar gemericik air yang mengalir sambil menghirup udara yang bersih dan segar, suasana yang romantis. Ditambah lagi dengan bantal yang ada di saung, saya sempat tertidur walaupun hanya beberapa menit saja. Selain saung-saung yang nyaman ini mereka menyediakan fasilitas toilet yang bersih dan juga tempat beribadah yang tak kalah nyaman.

Untuk menu makanan dan minuman disini saya tidak mengeksplor banyak karena memang tujuan saya kesini hanya ingin duduk santai, menikmati cemilan sembari menunggu petang datang. Saya hanya memesan Batagor, Colenak Kampung Daun, Bajigur dan Bandrek. Untuk Batagor saya berspekulasi tadinya mungkin menu ini tidak akan terlalu spesial, ternyata salah batagor disini enak juga lho (walaupun mahal harganya). Colenaknya juga enak, dibakarnya pas dan dressing yang pas menjadikan colenak ini patut untuk dicoba. Untuk minumannya saya suka banget sama Bajigur disini, menurut saya ini bajigur terenak yang pernah saya coba. Bandrek ini pertama kalinya saya mencoba menu ini, ternyata isinya wedang rempah dengan campuran kelapa muda.

Kampung Daun ini dibuka pukul 11.00-23.00 WIB, dan weekend Kampung Daun tutup pukul 24.00 WIB. Yang pasti disini saya mendapat memorable experience yang memang sangat indah. Walaupun menurut saya harga makanan disini terlalu mahal tapi hal ini sebanding dengan suasana dan pengalaman yang tak terlupakan bersama orang-orang terkasih :)

 Suasana Saung di Kampung Daun, kalau datang malam hari akan lebih romantis lho apalagi sama pasangan ataupun keluarga.

Saung-saung tetangga, ternyata tempat ini banyak sekali pengunjungnya. Walaupun begitu tapi suasananya tetap tenang dan nyaman sekali.

Kentongan yang ada di depan setiap saung, jika kita ingin memesan atau butuh bantuan pelayang tinggal pukul kentongan ini saja, pelayan akan datang membantu kita.


Jalan setapak menuju ke saung-saung

Disini ternyata juga menjual tanaman hias :D

Perhatikan si manusia milenium ini, saya kira tadinya ini patung ternyata salah ini manusia beneran lho. Huahaha kreatif banget masnya :D

Bandrek yang terbuat dari gula aren, jahe rempah-rempah lain dan potongan kelapa muda cocok diminum karena udara yang dingin disini. Harga Rp 8.500 (sebelum pajak)

Bajigur yang terbuat dari campuran gula aren, santan, jahe, dan bumbu lainnya terasa hangat di badan. Harga Rp 12.000 (sebelum pajak)

Colenak atau singkatan dari dicocol enak merupakan makanan yang dibuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian disajikan dengan saus yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah diberi garnish parutan keju dan buah strawberry. Harga Rp 8.500 (sebelum pajak)

Batagor (bakso tahu goreng) makanan yang dibuat dari tahu berbalut tepung lalu digoreng disajikan dengan bumbu kacang dan kecap. Harga Rp 22.000 (sebelum pajak)




Suasana Kampung Daun malam hari, terdapat api unggun yang bisa digunakan untuk menghangatkan badan.

Suasana outdoor di Kampung Daun, jika anda enggan lesehan di saung anda bisa menikmati duduk di spot ini. Menurut saya lebih enak malam hari kalau anda ingin duduk di spot outdoor ini.

Selain saung yang lesehan, outdoor disini juga bisa menikmati makanan dengan model warung seperti gambar diatas.

Toko oleh-oleh juga ada didalam kawasan Kampung Daun ini.

Malem-malem dingin kepengen singkong atau jagung bakar juga tersedia disini. Ini sepertinya spot khusus makanan kecil yang dibakar. Unik :D

Masih spot oleh-oleh juga nih.

Deretan pedagang makanan tradisional yang menjajakannya dengan gerobak kecil. Ada kerak telor, gulali, bandos, dll.

Ini kios-kios yang menjajakan oleh-oleh khas Bandung.





3 comments:

bakawali_2008 mengatakan...

wah...like...

MohdAshrafMohdZulkifli mengatakan...

hye!

Thanks 4 da info

SalamDariMalaysia :)

aku pengembara mengatakan...

sangat membantu

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar :)