Rabu, 04 Januari 2012

Nasi Bakar Jong Java

Ini dia salah satu menu favorit saya kalau lagi pulang kampung, nasi bakar Jong Java. Alamatnya di Jl. Irian tepatnya didepan kuburan besar. Sebenarnya cafe ini menyediakan banyak menu namun yang menarik untuk saya cuma nasi bakarnya, belum pernah mencoba menu yang lainnya.
 
Nasi di tanak sudah biasa, namun sekarang sudah banyak cara untuk menyajikan si nasi putih ini agar menjadi lebih enak dan lebih menarik lidah para pecinta kuliner. Salah satunya adalah nasi bakar, nasi yang sudah di tanak dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar diatas bara api atau arang. Walaupun hanya dibungkus dengan beberapa lembar daun pisang dan dibakar namun cita rasa yang dihasilkan dari nasi bakar ini akan sangat berbeda, lebih nikmat tentunya. Untuk memanjakan lidah para penjual dan pecipta menu ini pun terus berkreasi, tak hanya nasi putih yang dibungkus daun pisang saja, beberapa variasi lain mulai bermunculan. Nasi yang dibungkus tidak hanya nasi putih yang sudah ditanak, tetapi nasi tersebut sudah dibumbui dengan berbagai macam kreasi bumbu yang akan menciptakan cita rasa tersendiri tentunya.

Nasi bakar di Jong Java Cafe berbeda dengan menu nasi bakar yang pernah saya coba di Jogja dan di Bandung. Di Jogja yang pernah saya coba ada di daerah Wirobrajan dan satu lagi di daerah Wirosaban. Sedangkan di Bandung saya pernah mencoba menu nasi bakar di Nasi Bakar 15 Cimandiri. Kalau yang di Jogja dan Bandung rata-rata hampir sama, nasi putih dibungkus daun pisang dibakar terpisah dengan lauknya yang bisa kita pilih sendiri seperti ayam, empal, dll. Kalau nasi bakar di Pekalongan ini sedikit berbeda, lauknya yang berupa potongan dadu daging ayam, potongan sosis yang sudah dimasak dengan bumbu tersendiri dicampur dengan nasi, dibungkus dengan daun pisang baru deh dibakar. Harganya 10.000/porsi, disajikan dengan lalapan dan tak ketinggalan sambak yang tak kalah enaknya dengan nasi bakarnya sendiri.

Untuk rasa nasi bakarnya menurut saya gurih karena sebelumnya sudah di bumbui, ayamnya juga enak dan empuk, untuk sambalnya juga menurut saya sangat cocok dan pas dengan nasi bakarnya. Hati-hati yang tidak suka dengan sajian pedas, sambelnya cukup membakar lidah. Aroma daun pisang dan pembakaran yang dilakukan memang memberikan cita rasa kesedapan tersendiri buat menu yang satu ini.



Tauto - Soto Khas Pekalongan

Sajian bernama soto ini memang beragam jenisnya. Sepertinya setiap daerah memiliki ragam kuliner soto yang khas di masing-masing tempatnya berasal. Kali ini saya akan berbagi tentang pengalaman menyantap kuliner khas kota asal saya, Pekalongan. Tauto merupakan salah satu kuliner khas Pekalongan yang cukup melegenda, jika kalian singgah di Pekalongan jangan pernah melewatkan cita rasa kuliner yang satu ini.

Konon nama tauto merupakan singkatan dua nama dari tauco dan soto. Berbeda dengan soto yang lainnya, tauco ini memang salah satu bahan penyusunnya adalah tauco. Jadi citarasanya adalah kuah tauco yang rasanya manis dan gurih. Hal ini juga yang membuat aromanya khas serta kuahnya berwarna gelap agak kecoklatan karena efek dari bumbu tauconya sendiri. Jika sedang berada di Pekalongan tak sulit menemukan warung yang menjual tauto, salah satunya yang sudah cukup terkenal adalah Soto PPIP yang berada di Jl. Dr. Wahidin kompleks PPIP Pekalongan.

Semangkuk tauto berisi irisan daging kerbau yang sebelumnya sudah direbus jadi sudah empuk, mi soon, bumbu tauco, daun bawang, bawang goreng yang disiram kuah yang masih panas. Untuk memakan tauto ini biasanya ditemani dengan nasi atau lontong.










Sky Lounge All Season Hotel

Mungkin buat teman-teman yang tinggal di Jogja dan nggatekke pasti ngerasa kalo akhir-akhir ini di Jogja banyak banget dibangun hotel-hotel baru. Nah salah satunya hotel baru yang menarik minat saya adalah All Season Hotel yang lokasinya di Jl. Dagen 109. Katanya sih disini termasuk budget hotel tapi pas kesana di pintu masuknya sudah tertera rates untuk menginap disana per malam bisa sampai 600rb, yah itu budget buat pejabat-pejabat kita yang doyan korupsi itu kali ya. Ya menurut saya kalau untuk menginap mungkin hotel ini terlalu mahal untuk harga dengan fasilitas yang didapat. Tapi ya buat yang punya duit banyak ga masalah sih, wong duit-duitnya dia #PYTP

Saya sih emang kesini engga buat check in wong punya duit aja engga mending tidur dikosan duit segitu bisa buat tidur dikosan selama sebulan, hahaha. Yang menarik saya datang ke All Season ini adalah Sky Lounge nya yang berada di rooftop dari hotel itu, tepatnya berada di lantai 7. Saya tertarik sekaligus penasaran, soalnya setau saya di Jogja ini jarang banget ada sky lounge yang menawarkan city view dari rooftop seperti ini. Yah mungkin sekarang seiring dibukanya Aston Hotel yang katanya ada sky lounge nya juga makin banyak aja deh tempat makan sekaligus nongkrong yang memberikan fasilitas tambahan berupa city view kota Jogja.

Untuk masuk dari hotel menuju Sky Lounge nya anda bisa memarkirkan kendaraan anda terlebih dahulu, ada 2 tempat parkir di basement dan di samping gedung hotel. Kalo saya sih lebih suka parkir yang di samping hotel aja soalnya di basement itu jalan masuk kesananya sempit banget. Setelah itu cari jalan untuk menuju lift, masuk lift naik ke lantai 7. Bagi yang pertama kali berkunjung kesini saya rasa bakalan merasa terkagum-kagum dengan tata ruangan Sky Lounge kepunyaan All Season Hotel ini. Tata ruangan yang ciamik dipadukan dengan keindahan city view kota Jogja dari atap gedung berlantai 7 ini sangat sayang jika kita lewatkan, apalagi sendirian.

Untuk menu yang ditawarkan saya rasa cukup sedikit, dan entahlah setelah membolak balik buku menu saya tidak tertarik untuk mencoba menu makanan disini. Saya akhirnya hanya memesan minuman saja, ice chocolate dan lime squash. Harganya sekitar 15rb sebelum pajak, oh ya bagi anda yang berkunjung kesini ketika membuka buku menu pasti mengira bahwa harga yang ditawarkan relatif "murah" jika dibandingkan dengan tempat dan pelayanan disini tapi jangan kaget ketika anda membayar harganya naik drastis karena pajaknya kalo dijumlah ini itu sekitar 25% lah. Ho ho ho

So far menurut saya tempat ini cocok untuk menghabiskan malam bersama teman, rekan kerja ataupun pasangan. Tapi dari segi menu yang ditawarkan saya rasa masih perlu banyak tambahan varian menu.

















Jumat, 16 Desember 2011

Sate Klathak Pak Bari

Diantara beberapa jenis sate dari Sabang sampai Merauke menurut saya ada salah satu macam sate yang spesial nggak pake endog. Sate yang tidak berteman dengan kecap sebagai soulmatenya, sate yang bumbunya paling nggak macem-macem, sate yang tidak ditusuk pakai tusukan bambu. Ya, sate klathak namanya. Sate yang berasal dari Jogja ini salah satu diantara menu sate yang paling spesial menurut saya.

Sejarah sate klathak ini dulunya berasal dari Pasar Jejeran, Bantul dimiliki oleh Mbah Ambyah. Awal mulanya karena banyak warga sekitar yang memelihara kambing, sehingga hal ini mencetuskan ide dari Mbah Ambyah si nenek moyang sate klathak untuk membuat makanan berbahan dasar kambing. Tahun 1946 beliau memulai usahanya dengan berjualan dibawah pohon melinjo. Saya masih bingung kenapa beliau memilih pohon melinjo, kenapa gak pohon talok, apa pohon pete, apa uwit gedang gitu biar bisa sekalian ngunduh gedhang lalu dimakan sisan. Entahlah kenapa pohon melinjo yang dipilihnya, pasti Mbah Ambyah lagi galau (durung njaman kayaknya waktu itu) karena disitu cuma ada pohon melinjo yaudahlah jualan disitu aja. Sayangnya mbah Ambyah sekarang sudah meninggal dan warung satenya sekarang diteruskan oleh anak-anaknya. Nah di Pasar Jejeran sekarang warung ini digantikan oleh generasi selanjutnya (yang sepertinya generasi ketiga setelah Mbah Ambyah, cmiiw) yang akrab disebut Pak Bari. Beliau memberi nama warungnya seseuai dengan namanya sendiri, Sate Klathak Original Pak Bari.

Sejarah diberikan nama sate klathak ini ada beberapa versi, ada yang bilang bahwa nama klathak berasal dari bunyi daging kambing yang ditusuk dengan jeruji sepeda ketika dimasak diatas bara api yang bunyinya "klathak-klathak" yang menurut saya terdengarnya lebih ke "plethak-plethak" ya mbuh apalah bunyinya tergantung siapa yang mendengarkan. Kemudian ada juga yang bilang kalau klathak berasal dari buah melinjo yang jatuh dari tempat berjualan sang penemu sate klathak ini. Versi lainnya bilang klathak berasal dari bunyi melinjo yang dibakar, karena dulunya sang pembuat suka makan melinjo yang dibakar. Ya pokoknya banyak deh asal mula nama klathak, sak sak e sik nggawe aja menurut saya nggak ada versi mana yang benar dan salah wong kita menyaksikan sejarahnya secara langsung, yang penting budaya kuliner yang satu ini jangan sampai hilang termakan oleh semakin moderennya jaman yang edan ini.

Berbeda dengan sate-sate lainnya yang mengandalkan berbagai macam bumbu agar tercipta rasa yang khas dan menjadi daya tarik terserdiri maka sate klathak cukup bangga dan dapat populer dengan bumbu nya yang hanya berupa garam. Tusuk yang digunakan untuk memasak pun terbilang unik, apalagi bagi yang pertama kali mendengarnya. Mungkin sate pada umumnya ditusuk dengan menggunkan tusuk yang terbuat dari bambu maka sate klathak ini tusukannya terbuat dari jeruji besi yang biasanya dipakai untuk jeruji sepeda. Pasti yang belum pernah nyobain sate klathak mereka berpikir kalau jeruji yang dipake ini karatan dan bla bla lainnya. Tenang saja, tusuk jeruji yang digunakan selama ini cukup teruji dan aman, tidak ada korban yang jatuh gara-gara sate klathak ini karena biasanya tusuk jeruji ini selalu dibersihkan setiap kali akan dipakai jadi tidak berkarat. Konon katanya tusuk dari jeruji besi ini digunakan karena besi merupakan penghantar panas yang baik, jadi irisan daging yang ditusuk menggunakan tusuk ini bisa matang sampai ke dalam-dalamnya.

Anda yang biasa menyantap sate jangan heran dengan porsi sate klathak, kalau biasanya anda menikmati sate kambing biasa bisa 5-10 tusuk per porsinya sate klathak hanya berisi dua tusuk saja. Disajikan apa adanya masih lengkap dengan jeruji besi sepanjang kira-kira 30cm. Begitu original kesan saya, tapi alangkah nikmatnya sate ini jika dimakan bersama sepiring nasi, kuah gule dan teh nasgitel yang disajikan sengan gula jawa. Kuah gule disini pas banget biar nggak seret dan ada kuahnya biar seger. Atau bagi yang suka bisa dimakan dengan kecap yang berisi potongan brambang, tomat dan kobis. Selera saja sih menurut saya. Rasa sate klathak menurut saya enak, dagingnya segar sehingga lumer dimulut, bumbunya meresap sempurna, panas dari jerujinya juga memberikan rasa tersendiri untuk daging bagian dalam.

Daging kambing yang digunakan juga dipilih dari daging wedhus gembel alias domba gimbal, ini dikarenakan daging si wedhus gembel ini tidak berbau prengus jika dimasak berbeda dengan daging kambing jenis lainnya. Setiap harinya tak kurang 20 kilo daging wedhus gembel dihabiskan Pak Bari untuk melengkapi permintaan pelanggannya. Untuk membuat sate klathak, potongan daging kambing diremas-remas agar bumbu garamnya meresap dan merata. Bagi yang suka rasa pedas Pak Bari bisa mengkombinasikan dengan bumbu merica, atau bagi yang suka manis ketika meremas tadi biasanya dicampurkan dengan sedikit kecap.

Menu selain sate klathak yang unik ini juga ada sate goreng. Yang ini unik juga, karena dimasaknya dengan cara digoreng bukan dibakar diatas arang. Selain itu juga ada tongseng yang rasanya tidak kalah nikmat dengan menu yang lainnya. Jika anda ingin sesuatu yang berbeda coba menu bernama kicik. Cara membuatnya sama dengan membuat tongseng, tapi kuahnya dibiarkan menguap sampai agak kering. Yang tersisa tinggal daging dengan kuah sangat kental seperti gulali. Rasanya lebih manis dan asin. 

Walaupun warung kepunyaan Pak Bari ini hanya menempati sebuah ruko yang siangnya berubah menjadi pasar, namun banyak dari kalangan artis yang mengidolakan menu sate klathak mereka. Sate Klathak Pak Bari ini buka sekitar pukul 18:30 karena pagi sampai siangnya tempat yang dibuat untuk dia berjualan berubah menjadi pasar. Disarankan untuk datang sekitar jam 7 malam agar tidak terlalu mengantri, kemaren kunjungan terakhir saya datang selepas magrib pukul 18:30 itu malahan Pak Barinya belum datang, jadi saya menunggu beliau datang demi dua tusuk sate klathaknya. Seporsi sate klathak dan menu lainnya disini dihargai 12ribu/porsi, dengan nasi dan teh nasgitel total semuanya 15ribu.

Jika anda tidak sabar menunggu malam datang, Pak Bari bukan hanya satu-satunya penjual sate klathak didaerah sini. Di sekitaran jl. Imogiri timur atau sekitaran pasar Jejeran banyak warung-warung yang menjual menu sate klathak yang buka mulai pagi hingga malam. Dari puluhan penjual sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran umumnya masih punya hubungan famili dengan Pak Bari seperti Pak Pong, Pak Jono, dll. Yang pantas dibanggakan dari mereka para penjual sate klathak ini, meski medan bisnisnya sama, mereka tetap rukun. Persaingan tidak menyebabkan saling menjatuhkan satu sama lain.

Sate goreng, satenya gak pake ditusuk, cuma dibumbuin terus di goreng. Disajikan dengan kuah gule.

Satu porsi sate klathak isinya cuma dua tusuk, tapi menurut saya segini adalah porsi yang cukup karena kebanyakan orang cenderung pusing ketika memakan daging kambing terlalu banyak.

Sate klathak dengan kuah gule.

Tongseng a la Pak Bari, rasanya segar bercampur gurih.

Pak Bari sedang membuat pesanan dari para pelanggannya.

 Suasana warung Pak Bari yang menempati kios didalam Pasar Jejeran

Ini sate klathak yang masih mentah, walaupun cuma dua tusuk dagingnya udah lumayan banyak menurut saya.
Gule Pak Bari, saya belum pernah mencoba menu yang satu ini hanya sempat menyicipi kuahnya saja.


Ini dia spanduk Sate Klathak Original Pak Bari "Jangan ngaku klathak mania sebelum jajan disini"


Persembunyian Gudeg dan Mangut Lele Mbah Marto

Awal mulanya karena penasaran ada liputan di salah satu tv lokal Jogja tentang mangut lele Mbah Marto, sebenernya sih udah lama juga denger kelezatan mangut lele cuman memang baru kali ini diniatin makan siang kesana. Ya memang bener-bener harus mengumpulkan niat yang cukup buat menuju lokasi warung Mbah Marto ini karena lokasinya di sekitar belakang kampus ISI yang sementara saya kuliah dan tinggal di UII Terpadu Jl. Kaliurang km nggunung sekali. #curhat Istilahnya mbelah Jogja, dari gunung menuju ke laut. Yah walaupun lokasi warung ini masih jauh dari laut (pantai Parangtritis) tapi kalau ditempuh dari tempat saya sekitar 1 jam lebih. Lokasi Sego Nggeneng Mbah Marto ini di sekitaran belakang kampus ISI. Ancer-ancernya kira-kira begini:

Darimanapun anda ambillah jalan menuju jl. Parangtritis, terus keselatan sampai ketemu perempatan (traffic light) ringroad masih terus ke selatan terus aja sampai di km 6,5 kanan jalan ada kampus ISI (Institut Seni Indonesia) masih lurus terus sampai di kiri jalan ketemu Kantor POS Sewon tepat di seberangnya ada jalan kecil anda masuk saja (belok kanan) terus saja sampai ketemu tikungan ke kanan tepat setelah tikungan (kira-kira 10 meter) ada gang kecil di kiri jalan anda masuk saja. Lurus dari gang kecil itu ada masjid terus belok ke kiri, lurus dikit kira-kira 10-15 meter ada belokan ke kiri masuk situ. Biasanya kalau datang pas jam makan siang di gang ini sudah dipenuhi mobil-mobil yang sudah parkir (jalan ini kecil sekali, jadi susah sekali kalau buat simpangan sama mobil lain) jadi pintar-pintarlah mengatur waktu kedatangan anda supaya bisa dapat tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari warung Mbah Marto ini. Dan jangan kaget juga kalau mobil yang banyak terparkir disini rata-rata ber plat luar Jogja karena memang penggemar dari warung Mbah Marto ini banyak dari luar kota dan dari berbagai kalangan.

Lha mana warungnya kok nggak keliatan? Kok cuma keliatan mobil-mobil parkir aja, orang-orangnya pada dimana ya? Jangan takut, kalau anda sudah masuk ke gang ini berarti anda sudah dekat dengan warung Mbah Marto, warungnya sendiri memang tidak di pinggir jalan ini persis. Kita masih harus berjalan kaki melewati rumah penduduk untuk menuju ke warung ini, jika Anda bingung tanya saja dengan penduduk sini pasti semuanya tahu.

Jika benar maka Anda akan melihat rumah dengan meja kursi kayu sederhana dengan beberapa orang sedang makan (jika anda datang pas jam makan siang). Pasti jika ini kunjungan pertama kali kesana Anda akan bingung dan bertanya-tanya, "Loh dimana yang jualan? Kok isinya cuman orang pada makan nggak ada yang jualan?". Jangan bingung, keistimewaan warung Mbah Marto ini adalah kita bisa langsung mengambil sendiri menu makanan disana langsung dari dapurnya.

Sego Nggeneng Mbah Marto ini berdiri diatas rumah permanen sederhana, demikian juga dengan interior di dalamnya sangat sederhana khas sekali dengan budaya Jawa. Kesan tradisional dan sederhana berlanjut ketika saya memasuki dapur tempat berbagai macam menu disini diolah, dapurnya masih tradisional sekali. Untuk memasak mereka masih menggunakan kayu bakar sebagai kompornya, lantainya pun beralaskan tanah alami, sungguh saya merasa cinta sekali dengan suasana sederhana dan tradisional seperti ini. Menu masakan yang akan disajikan di letakan diatas amben (kalo bahasa daerah saya namanya amben, sejenis dipan yang terbuat dari kayu) dan disajikan didalam baskom. Pengunjung mengambil makanannya sendiri, istilah ngetrendnya itu prasmanan ya kayak di mantenan itu lah. Sambil mengambil mengantri menunggu giliran mengambil makan saya betul-betul menikmati ketradisionalan warung ini karena tercium bau asap sabut kelapa yan kayu bakar yang sedang digunakan untuk mengasap lele.

Tiba giliran saya mengambil makanan, bingung juga dihadapkan dengan berbagai macam pilihan lauk yang semuanya terlihat enak. Kalau bisa muat semua di perut, saya kepengen banget nyobain semua menu disini. Diantara beberapa baskom lauk ada sajian favorit saya, gudeg. Di warung ini gudeng yang disajikan adalah gudeg klasik dengan areh yang tidak kental dan sayuran hijaunya menggunakan daun pepaya bukan daun singkong seperti biasanya. Biasanya kita ketahui kalau daun pepaya direbus itu rasanya pahit, tapi ditangan Mbah Marto daun pepaya ini nggak kerasa pahit sama sekali. Kemudian ada juga sajian mangut lele yang merupakan menu lauk andalan di warung ini, karena cara memasaknya yang unik dan rasanya yang khas. Tidak seperti pada umumnya mangut di tempat lain yang lelenya digoreng, lele di sini diasapi dulu sebelum dimasak dengan bumbu mangut. Lele ditusuk dengan pelepah daun kelapa yang tujuannya agar daging lele tidak lengket dengan tusukkannya, ditumpuk dan kemudian diasapi dengan menggunakan sabut kelapa sehingga dihasilkan daging lele dengan tekstur yang masih kenyal dan aroma sangit yang khas. Lalu ada opor ayam, telur, tahu dan tempe dengan warna khas kuning yang menggoda. Beralih ke baskom lainnya ada kudapan sambel goreng krecek, bagi yang suka pedes pasti tidak asing dengan menu yang satu ini. Terutama saya, sepanci menu ini benar-benar menggoda saya. Khasnya mereka nggak pake krecek tapi pake kulit/rambak (sebelum diolah seperti kerupuk) yang dikenal dengan nama krecek ndeso. Sambel goreng krecek ini isinya juga ada potongan tahu, kulit mlinjo dan kacang tolo. Lalu ada juga baskom yang berisi beberapa bungkusan yang saya pikir tadinya botok, tapi ternyata adalah garang asem yang menggunakan rempelo ati ayam, pasti seger banget rasanya. 

Sembari mengobrol dengan simbahnya saya mengambil nasi dengan lauk mangut lele yang katanya simbah rasanya super pedes, untuk sayurnya saya mengambil gudeg dan sambel goreng krecek. Sebenernya sih pengen ngambil lauk lainnya yang keliatannya sedep semua, tapi apa daya piring saya sudah penuh banget dan nggak yakin bisa menghabiskan semuanya kalau harus mengambil lauk lainnya. Mbah Marto ini sungguh sangat ramah, tapi karena mungkin usia beliau yang sudah sepuh jadi kalau mau ngobrol sama beliau harus dengan suara yang ekstra karena pendengarannya sudah turun. Satu lagi, Mbah ini nggak bisa bahasa Indonesia kalaupun ada orang ngomong atau bertanya dengan bahasa Indonesia beliau akan menjawabnya dengan bahasa jawa.

Setelah mengambil makanan dengan isi piring yang mentuthuk saya duduk di bagian teras, terasa sekali betapa ketradisionalan dari warung ini tetap dijaga. Soal rasa masakan Mbah Marto ini boleh diadu, terbukti ketika saya menikmati mangut lelenya. Rasa sangitnya masih terasa sekali dan membuat mangut lele ini terasa sedap dan nagih rasanya. Untuk daging lelenya juga kenyal, serta dengan bumbu cabe yang dominan dan bumbu lainnya sangat meresap sampai kedalam daging. Saya yang biasanya nggak begitu suka lele sangat terpuaskan dengan menu yang satu ini. Mangut lele Mbah Marto ini berbeda dengan mangut lele pada umunya. Biasanya mangut lele dominan berkuah santan sedang mangut lele yang satu ini berlumuran dengan cabe yang menurut saya masih kurang pedas nggak seperti yang dibilang si Mbah tadi waktu saya mau ngambil lele dari baskom. Setelah itu saya mencoba beberapa suap nasi dengan sambel goreng krecek, yang satu ini rasanya nggak nanggung-nanggung sedepnya, bumbu dan bahan-bahan ndeso yang digunakan dipadukan dengan rambak sapi, kulit melinjo, tahu dan kacang tolo mempunyai rasa yang unik dan tak terlupakan, sambel krecek Mbah Marto ini yang paling enak selama saya makan. Bentuk krecek tidak berubah jadi lembek dan saat dikunyah teksturnya yang masih kenyil-kenyil ini terasa unik kayak oki jeli drink, untuk derajat kepedesannya menurut saya yang sangat suka pedas ya tidak terlalu pedas lah punyanya Mbah Marto ini.

Warung sego nggeneng ini buka mulai pukul 11 siang hingga jam 4 sore yang biasanya menunya tinggal habis-habisan. Untuk harga yang harus dibayar, Mbah Marto mematok harga yang relatif terjangkau menurut saya. Ya terjangkau jika dibandingkan dengan keramahan beliau menyambut kami, terjangkau jika dibandingkan dengan menu masakan yang jarang ditemukan serta dengan rasa yang enak dan sedap saya rasa pastilah saya pantas menyebutnya "terjangkau". Untuk seporsi nasi dengan lauk mangut lele, gudeg dan sambel goreng krecek dihargai 10ribu rupiah. Untuk minumannya saya kurang tahu berapa, pokoknya 2 porsi nasi dengan lauk yang sudah saya sebutkan tadi, 2 es teh dan 2 kerupuk total semuanya 24ribu rupiah. Akhirnya perjalanan jauh yang saya tempuh saya rasa terbayarkan dengan makan siang yang sangat istimewa a la Mbah Marto. Semoga si Mbah Marto selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang ya Mbah :)

Salah satu menu makan siang saya yang paling istimewa: nasi, gudeg, mangut lele dan sambal goreng krecek. Onde mande tiada duanya rasanya!



Lorong menuju ke dapur warung Mbah Marto, disana ada lincak yang juga bisa digunakan pengunjung untuk menikmati makanan ketika didalam penuh dengan pengunjung.

Ini kayu bakar yang digunakan untuk memasak, hasil masakan dengan kayu bakar inilah yang menciptakan cita rasa tersendiri bagi menu masakan Mbah Marto. Terlihat juga ada rambak yang masih belum diolah diatas tumpukan kayu.

Salah satu sudut dapur mereka yang masih menggunakan cara tradisional untuk memasak.

Jika anda makan disini memang harus biasa dengan pemandangan antrian seperti ini. Harus bersabar juga karena untuk mendapatkan menu disini yang disiapkan dengan cara prasmanan kita harus sabar mengantri

Menu makanan disajikan didalam baskom yang diketakan diatas amben beralaskan tikar, sedang Mbah Marto duduk di sudut lincak sambil sesekali menyapa para pelanggannya dengan halus dan senyumnya yang khas.

Salah satu sudut dapur warung ini, satu ruangan dapur digunakan untuk memasak dan juga untuk menyajikan menu masakan yang mereka jual.

Lauk yang terlihat ada garang asem rempelo ati yang dibungkus daun pisang, opor ayam, telur, tahu dan tempe.

Ini foto lele sesudah diasap yang masih harus dimasak mangut agar menghasilkan cita rasa yang sempurna.




Ini dia menu andalan Mbah Marto, mangut lele yang dominan warna merah ini rasanya memang cukup pedas.

Gudeg yang menggunakan daun pepaya rebus.

Sambel goreng krecek, tips dari saya banyakin kuah ini kalau yang suka pedes, jangan sampai ketinggalan juga ampas kulit melinjo, tahu dan kacang tolo yang rasanya super sedap.

Apapun makanannya kerupuk yang satu ini nggak boleh ketinggalan untuk dimakan.

Beberapa pengunjung yang sedang menikmati sego nggeneng.


Sego Nggeneng Mbah Marto
Alamat: Selatan Kampus ISI, Dusun Nengahan, Padukuhan Ngiring-iring, Panggungharjo, Sewon, Bantul Telp. 085292095550
Buka pukul 11.00-16.00

Selasa, 13 Desember 2011

Indomie Kuah Susu a la Beverly Hills

Warning: ini adalah postingan selo

Sakjane dunia perkulineran itu ono-ono wae. Semakin kesini muncul makanan-makanan baru dengan kombinasi bahan yang mungkin agak sedikit aneh ditelinga kita. Lha gimana enggak cobak? Bayangkan indomie yang sakjane itu adalah mie instan sejenis sarimi (yang bukan isi dua), mie sedap, supermie, dll yang semua orang -- saya yakin -- bisa membuatnya kuahnya bukan dari kuah air biasa melainkan susu. Yes susu sapi murni. Bagi sebagian orang ini mungkin aneh, apalagi yang nggak suka sama susu pasti mbayangke aja mblenek.

Tapi bukan Mbak Henn namanya kalo nggak suka makanan yang aneh-aneh. Berawal dari seseorang yang posting foto indomie kuah susu di akunnya @kulineryogya besoknya saya langsung ngeslah becak turun gunung kesana kemari mencari alamat jeng! jeng! *nyetem icik-icik* sampai akhirnya sampai di Beverly Hills yang berada di Jl. Prof. Dr. Herman Yohannes, Sagan (Depannya Mie Thoyonk). Sebenrnya Beverly Hills ini warung langganan saya sejak SMA, tapi dulu saya kesini buat makan jagung bakar serut. Akhirnya saya memesan semangkuk intel kuah susu dengan minum air putih (ini buat jaga-jaga aja karena baru pertama kali nyoba takut mblenek kalo minumnya yang aneh-aneh). 

Akhirnya pesanan saya datang, semangkuk indomie rebus telur dengan kuah susu. Tak sabar saya langsung mengaduk-aduk agar bumbunya tercampur dengan baik kemudian yang pertama saya cicipi yaitu kuahnya. Rasa kuah susu yang dipadukan dengan bumbu indomie cenderung sama saja dengan kuah yang menggunakan air rebus biasa tidak mblenek atau aneh seperti yang dibayangkan. Kok bisa? Yabisa orang susu itu kan rasa aslinya tawar, ndak asin ndak manis jadi kalaupun dijadiin kuah indomie ya rasanya sama aja. Tapi mungkin yang berbeda adalah nutrisinya, disini mie instan yang seperti kita ketahui dimana suatu makanan yang instan itu tidak baik buat kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering mendapat 'sokongan' gizi yang terkandung dalam susu sapi tersebut. Harga untuk seporsi intel kuah susu adalah 5.500 rupiah. Untuk menu lainnya ada jagung bakar, roti bakar, pisang bakar, omlette tentunya dengan berbagai rasa dan topping. Untuk minumannya yang spesial disini berbagai rasa susu sapi segar.

Tak pikir-pikir jan selo tenan yang nyiptain menu begini, tapi yo nggakpapa sih buat kerjaan orang yang pengenan seperti saya ini. Pokoknya tak tunggu yang nyiptain menu bakso kepala bayi  kuah susu ibu. Bakso kepala bayi maksudnya segede kepala bayi gitu lho ya bukan kepala bayi beneran :D


Unyu kan kalo indomie kuahnya pake susu, sruput sitik joss pokoke!

Nyruput kuahnya aja udah bikin kenyang, ini sampe kuahnya kering gara-gara keenakan tak sruputin.

Daftar harga indomie rebus dengan kuah susu


Beverly Hills
Jl. Prof. Dr. Herman Yohannes, Sagan.
Buka selepas magrib sampai pukul 22.00

Gudeg Mercon Bu Ngatirah

Siapa bilang gudeg selalu identik dengan rasa manis? Di perempatan Asem Gede ada seorang ibu paruh baya bernama Ibu Ngatirah yang menjual gudeg yang 'mbelok' dari jalurnya. Dinamakan gudeg mercon karena gudeg ini pedesnya yaampun banget, jadi di analogikan dengan mercon karena pas kita makan gudeg mercon ini rasa pedasnya benar-benar meledak di mulut. Bagi penggemar rasa pedas seperti saya, gudeg mercon merupakan 'surga' dari segala gudeg yang notabene rasanya manis. Menurut anak Bu Ngatirah yang selalu menemani beliau berjualan, ide awal membuat gudeg mercon adalah keinginan untuk membuat rasa gudeg yang berbeda dan tidak membosankan. Pemilihan rasa pedas karena dinilai banyak disukai oleh masyarakat banyak.Walaupun agak sedikit melawan arus gudeg ini justru selalu diburu para pembeli. Siapa sangka gudeg ini sudah ada sejak tahun 1992 dan semakin lama pelanggannya semakin bertambah.

Kalau biasanya gudeg hanya menyediakan sayur nangka, areh, krecek, potongan daging dan telur yang cenderung memberikan rasa manis, maka gudeg mercon ini ada campuran sayur mercon dan aneka gorengan. Ternyata lidah masyarakat cocok. Gudeg racikan Ibu Ngatinah ini menyajikan gudeg yang dicampur dengan sayur tempe yang diolah dengan potongan cabe hijau yang metutuk (baca: menggunung). Mungkin yang dianggap menjadi mercon ini ya sayur tempenya itu, dijamin bakal membakar lidah pedasnya. Belum lagi sayur kreceknya yang juga dicampur dengan cabai rawit merah yang semakin membuat njebluk mulut kita. Sebenernya pedesnya si sayur krecek nggak seberapa sih dibandingkan dengan sayur tempenya itu.

Bagi anda yang mencintai rasa pedas pasti akan terpuaskan dengan olahan gudeg mercon ini, kadang saya kalo pas lagi selo juga tak gadoin itu cabe ijo sama merconnya. Tapi ya resikonya kalau perut pas nggak kuat semaleman nggak bisa tidur karen bola bali ke kamar mandi. Gudeg mercon ini buka mulai pukul 22.00 malam hingga pukul 04.00 pagi. Harganya juga bervariasi tergantung mood dan kondisi, biasanya sih mulai 12 ribu untuk gudeg suwir, 14 ribu untuk gudeg suwir telur dan 20 ribu untuk gudeg paha. Untuk menemani makan gudeg disediakan aneka gorengan dan aneka sate. 

Bu Ngatirah sedang melayani pelanggannya

 

 Nah ini dia gudeg mercon dengan suwiran ayam, nasinya porsi kecil khas gudeg pada umumnya. Itu cabe ijo nya yang paling saya suka, tak jambal kalo masih belum kenyang.


Gudeg Mercon Bu Ngatirah
Alamat : Perempatan Asem Gede, Kranggan Jogja
Buka mulai pukul 22.00-04.00